Kamis, 20 Agustus 2009

SAATNYA SERIUS GARAP KEDELE

  • Tak terbantahkan bahwa kedelai telah merupakan bahan pangan pokok bagi penduduk Indonesia . Ketika tingkat kesejahteraan rakyat meningkat, penduduk tidak cukup hanya makan karbohidrat (nasi), maka tempe dan tahu merupakan pilihan favorit sebagai sumber protein. Namun intensifikasi produksi kedele belum tergarap dengan baik
  • Tempe dan tahu merupakan sumber protein paling aman bagi kesehatan. Masyarakat yang makin maju dan terpelajar justru menyadari hal tersebut. Penderita kolesterol tinggi, jantung, dan lain-lain memilih tempe dari pada daging. Dan tempe terbuat dari kedele. Namun ketersediaan kedele yang berasal dari produksi dalam negeri saat ini baru bisa untuk mencukupi sekitar 35 % dari kebutuhan nasional tiap tahunnya.
  • Indonesia sebagai negara yang paling kaya memiliki sumber daya lahan, sangat ironis jika terus menggantungkan diri dari kedele impor. Mengingat sebagai bahan makanan pokok maka ketergantungan tersebut dapat menjadi alat negara lain (produsen) untuk mendikte Indonesia.
  • Intensifikasi Produksi. Dalam kondisi tersebut program intensifikasi produksi kedele di Indonesia justru belum mendapat perhatian yang memadai. Dasawarsa 80 an dan 90 an yang lalu Indonesia pernah menjalankan program Insus (Intensifikasi khusus), Supra Insus, dan Upsus (Upaya khusus) dalam upaya peningkatan produksi kedele. Namun justru ketika kebutuhan kedele terus meningkat, sudah sekitar 15 tahun tidak ada lagi program sejenis. Memang benar bahwa pada 3 tahun terakhir petani diberikan subsidi benih. Namun yang juga sangat diperlukan adalah teknik budidaya untuk meningkatkan produkstivitas.
  • Akibat dari minimnya program intensifikasi produksi kedele, kondisi tanaman kedele di lahan-lahan petani akhir-akhir ini memang terlihat cukup memprihatinkan. Terkesan cukup menonjol bahwa tanaman kedele kurang mendapat perawatan dari petani. Bahkan ada kesan petani sekedar menanam benih lantas dibiarkan tanpa upaya pemeliharaan yang cukup. Sementara dalam upaya peningkatan produksi sangat direkomendasikan selain penggunaan benih unggul, tanaman kedelai mestinya juga harus dipupuk, dibuat saluran irigasi / drainasi, serta disiang. Akibatnya dalam kurun waktu yang lama tidak terjadi peningkatan tingkat produktivitas yang signifikan (kab. Bantul sekarang ini 1,4 ton/Ha, dengan luas tanam rata-rata 4.500 Ha/tahun)
  • Namun nampaknya yang paling essensi adalah perlunya rangsangan bagi petani berupa tingkat harga jual yang memadai. Selama ini di luar musim panen kedele, harga kedele mencapai Rp 8.000 /kg. Sementara begitu memasuki musim panen harga kedele cepat merosot menjadi sekitar Rp 4.500. Kondisi tersebut menjadikan petani tidak tertarik untuk menekuni komoditas kedele, karena petani juga tidak memiliki kekuatan unuk menghadapi harga pasar.
  • Apabila pemerintah tidak bisa menyangga harga pada level yang menguntungkan maka alternatifnya adalah perlunya segera dibatasi impor kedele. Jika impor sedikit, maka kedele lokal akan terangkat harganya. Bahkan bila terpaksa terjadi kelangkaan kedele dan harganya menjadi sangat mahal maka diyakini akan memacu kalangan petani untuk berlomba memproduksi kedele.
Terlampir foto: petani di Cepoko, Desa Trirenggo, Bantul, sedang mengamati tanaman kedele.

Bantul, 20 Agustus 2009
Ir. Edy Suhariyanta, MMA
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar